Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are herepenjangkauan / Terhilangnya Orang yang Paling Kita Kasihi

Terhilangnya Orang yang Paling Kita Kasihi


By admin - Posted on 19 February 2021

Penginjilan kepada Teman dan Keluarga

Apa yang lebih sulit daripada membagikan Injil untuk pertama kalinya kepada seseorang yang Anda kasihi? Membagikan Injil untuk kesepuluh kalinya kepada seseorang yang Anda kasihi – bahkan setelah mereka (berulang kali) menanggapi dengan penolakan atau ketidakpedulian.

Pada titik itu, kita sering merasa mandek, seolah-olah kita telah bermain-main dengan teman, anak, tetangga, atau pasangan kita. Kita telah berdoa dengan setia, menyampaikan Injil dengan jelas, dan mengasihi dengan sabar. Namun, tidak ada tanda-tanda pergerakan atau kemajuan. Apa lagi yang bisa kita lakukan?

Kawasan Kumuh

Kita tidak ingin menyerah. Terlalu banyak yang dipertaruhkan. Akan tetapi, kita tahu bahwa pengulangan yang tidak diinginkan dari kata-kata Injil yang sama dapat menjauhkan daripada menarik, mengeraskan daripada melembutkan. Lalu, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Menghindari percakapan? Puas dengan basa-basi? Kita merasa lelah dan putus asa. Kita mungkin menjadi sinis dan pasrah pada apa yang terasa seperti kenyataan yang tak terhindarkan bahwa orang yang kita sayangi tidak akan pernah mengikuti Yesus.

Apa yang perlu kita katakan saat kita sudah mengatakan semuanya? Bagaimana kita bisa bertekun mengejar yang terhilang yang kita kasihi?

Cara Agar Tidak Bingung

Ada beberapa tanggapan bermanfaat bagi kita yang bergumul dengan hal ini. Pertama, mungkin kita terlalu fokus pada kemampuan kita sendiri (atau kekurangannya) untuk memenangkan orang yang kita kasihi.

Yesus mengarahkan kita menjauh dari diri kita sendiri dan menuju kedaulatan Allah. Kita dapat percaya bahwa, pada waktunya, Allah akan menarik umat-Nya kepada Anak-Nya (Yohanes 6:44). Bisa jadi kita terlalu asyik dengan kurangnya kesuksesan kita saat ini. Rasul Paulus malah mengarahkan kita ke masa depan: -Janganlah kita menjadi lelah berbuat baik. Jika musimnya tiba, kita akan menuai asalkan kita tidak menyerah- (Galatia 6:9).

Penyebab lain dari keputusasaan dan kebingungan kita mungkin adalah kebohongan Setan bahwa kita berurusan dengan situasi statis. Jauh di lubuk hati, kita yakin tidak ada yang akan berubah. Alasan kita untuk merasa seperti ini mungkin karena keyakinan yang tidak terucapkan seperti ini: Saya memiliki Injil yang tidak berubah untuk dibagikan, dan saya telah membagikannya (beberapa kali!). Saya tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan. Saya telah melakukan semua yang saya bisa. Tidak ada yang akan berubah.

Akan tetapi, bagaimana jika penginjilan adalah tentang lebih (tidak kurang) daripada membagikan isi Injil? Bagaimana jika orang lebih kompleks dan tidak dapat diprediksi daripada yang kita pikirkan? Dan, bagaimana jika situasi dengan pasangan, teman, anak, orang tua, atau tetangga kita lebih dinamis daripada yang Setan ingin kita percayai? Dalam menghadapi kebuntuan yang nyata, sangatlah menyegarkan dan membesarkan hati untuk mengingatkan diri kita sendiri tentang tiga realitas dinamis dalam hubungan apa pun dengan orang yang terhilang yang kita kasihi.

Orang Ini Akan Berubah

Sangat mudah untuk percaya bahwa orang yang Anda kasihi yang telah berulang kali menolak atau membuat Anda putus asa akan selalu menolak Injil. Namun, orang berubah. Ada mitos populer bahwa setiap sel di tubuh kita diganti setiap tujuh tahun, jadi kita benar-benar orang yang berbeda setiap 84 bulan. Meskipun tidak benar, ini adalah metafora yang berguna untuk kasus yang sebenarnya. Anda yang berusia 45 tahun adalah (atau akan) menjadi orang yang berbeda dari Anda yang berusia 35 tahun (yang berbeda dari Anda yang berusia 25 tahun). Dan, ini seharusnya membuat kita berharap.

Saya memiliki seorang teman yang membagikan Injil kepada ratusan penghuni panti jompo setiap tahun. Pandemi telah mengubah pelayanannya secara radikal, tetapi dia kreatif, sering mengunjungi penghuni melalui iPad yang dipegang oleh petugas panti jompo. Belum lama ini, teman saya meminta pendukung untuk mendoakan seorang penghuni bernama Bob. Sebelum COVID Bob tidak terlalu tertarik dengan Injil. Akan tetapi, ada perubahan dramatis. Sekarang Bob terbuka lebar untuk Injil, sangat menginginkan kunjungan, berdoa, dan membaca Alkitab.

Allah menggunakan virus untuk melakukan itu. Siapa yang bisa meramalkan itu? Tidak ada dari kita yang tahu apa perubahan hidup selanjutnya bagi orang yang kita kasihi. Ketika keadaan mereka berubah, mereka juga mungkin berubah. Tiba-tiba, mereka mungkin melihat Injil tidak lagi tidak berharga atau tidak relevan, tetapi sebagai berharga dan penting.

Anda Akan Berubah

Selama studi pascasarjana, saya tinggal serumah dengan beberapa mahasiswa lain, salah satunya adalah orang Inggris. Kami cukup sering bertemu di dapur saat menyiapkan makanan, dan dalam banyak percakapan kami, sering kali wajar bagi saya untuk mengatakan hal-hal seperti, "Saya membaca sesuatu yang menarik dalam Alkitab pagi ini," atau, "Saya benar-benar tertantang oleh apa yang saya dengar di gereja hari ini." Ini hanya saya yang menjadi diri saya, berbagi hidup saya sendiri (seperti yang sewajarnya dilakukan oleh seorang teman).

Seiring waktu, saya dapat membagikan Injil kepada teman saya melalui percakapan dapur ini. Pada saat itu, saya tidak menyadari semua yang terjadi dalam hidupnya. Dia sedang terluka dan mencari, dan Injil jadi sesuatu yang menarik baginya. Suatu malam tertentu, yang tidak akan pernah saya lupakan, dia menghentikan saya di ruang tamu rumah yang kami tinggali bersama dan memberi tahu saya bahwa dia telah menjadi seorang Kristen.

Salah satu alasan mengapa kita merasa terjebak dalam penginjilan kita mungkin karena kita telah salah mempersempit tugas kita untuk membagikan pesan tentang bagaimana diselamatkan. Pesan itu sangat penting dan sentral, tetapi jika hanya itu yang harus kita bagikan, dan kita sudah membagikannya, dan itu sudah ditolak, kita mungkin merasa mandek. Akan tetapi, tugas kita lebih kaya, lebih dalam, dan lebih lengkap daripada itu. Kita harus membagikan Injil dan diri kita sendiri (1 Tesalonika 2:8), karena kehidupan yang ditebus oleh Injil menceritakan kembali Injil tetapi dengan detail yang unik, pribadi, dan dapat dihubungkan.

Jadi, ada banyak percakapan Injil tambahan yang bermanfaat yang bisa didapat bahkan setelah orang yang kita kasihi menolak Injil. Misalnya, kita dapat terus mengungkapkan apa arti Injil bagi kita. Kita dapat berbagi bagaimana pergumulan dan kemunduran yang baru kita alami membantu kita lebih percaya kepada Kristus. Sangat mungkin untuk melakukan ini dengan cara yang alami, tanpa paksaan, dan tidak berkhotbah. Saat kita mengalami lebih banyak tentang Kristus yang kita kasihi, kita dapat mengungkapkannya kepada orang yang kita kasihi. Kita tidak pernah terjebak hanya dengan satu hal untuk dikatakan.

Persahabatan Anda Akan Berubah

Saya memiliki teman lama yang tidak mengenal Yesus. Saya sering mengunjungi tempat bisnisnya selama bertahun-tahun, bukan karena saya pikir saya membutuhkan apa yang dia jual, tetapi karena saya tahu dia membutuhkan apa yang saya berikan.

Pada awal persahabatan kami, kami mengobrol tentang cuaca dan olahraga. Kemudian, kami mulai bercerita tentang anak-anak dan keluarga kami. Bertahun-tahun setelah itu, kami telah membicarakan hal-hal seperti gereja, Injil, kematian, dan persahabatan. Saat saya berada di tokonya sendirian, percakapan bisa menjadi sangat dalam dengan sangat cepat. Saya telah mengundangnya ke gereja berkali-kali dan dia tidak pernah menerimanya. Saya telah menjelaskan Injil, dan dia belum percaya. Namun, saya punya harapan, sebagian karena persahabatan kami tidak statis.

Saya bisa mengatakan lebih banyak kepadanya sekarang daripada lima tahun lalu. Apa yang bisa saya katakan lima tahun dari sekarang? Jangan berasumsi bahwa hubungan Anda dengan teman, anak, tetangga, atau pasangan Anda akan selalu seperti sekarang ini. Bahkan, anggap saja itu akan berubah. Dan, mohonlah supaya Allah membuka pintu melalui perubahan itu.

Jangan Menyerah

Saat kita mengalami lebih banyak tentang Kristus yang kita kasihi, kita dapat mengungkapkannya kepada orang yang kita kasihi.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Teman saya yang melayani di panti jompo memberi tahu saya tentang seorang pria bernama Rich, mantan insinyur, yang tinggal di panti jompo. Suatu sore di bulan Juli, satu atau dua tahun yang lalu, setelah percakapan di kamarnya, Rich memutuskan bahwa dia ingin mengenal Yesus. Dia berdoa dan mengundang Yesus untuk menjadi Juru Selamatnya. Segera setelah itu, dia memulai kursus pemuridan dengan teman saya, membaca Injil Yohanes bersama-sama. Rich berusia 98 tahun.

Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang telah membagikan Injil kepada Rich selama bertahun-tahun dan tidak berhasil menerobos? Saya bertanya-tanya berapa banyak yang sudah putus asa? Namun, setelah 98 tahun, Allah menyelamatkannya.

Tolong jangan berkecil hati. Jangan percaya kebohongan bahwa tidak ada yang akan berubah, bahwa tidak ada lagi yang bisa Anda katakan atau lakukan. Jangan puas dengan keyakinan bahwa pasangan, anak, tetangga, atau teman Anda tidak akan pernah mengenal Yesus. Tetaplah berdoa. Tetaplah berbicara dengan sabar saat Anda memiliki kesempatan. Tetaplah mengasihi dengan kasih Yesus. Teruslah berbagi liku-liku hidup Anda sendiri saat Anda bergantung pada Yesus dan bertumbuh di dalam Dia. Teruslah tekun mengejar yang terhilang yang Anda kasihi. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/articles/the-lost-we-love-the-most
Judul asli artikel : The Lost We Love the Most
Penulis artikel : Stephen Witmer